Jumat, 02 April 2010

CA CERVIK

A. Latar Belakang

Kesehatan ibu merupakan salah satu sasaran dari upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan pada ibu dan wanita pada umumnya adalah kesehatan reproduksi wanita. Perkembangan disegala bidang sebagai dampak dari keberhasilan pembangunan, memberikan berbagai nilai positif bagi perkembangan kesehatan diIndonesia. Namun, dilain pihak dampak pembangunan juga sangat mempengaruhi prilaku masyarakat. Pergeseran norma dan pola hidup mengakibatkan pergeseran prilaku lapisan masyarakat termasuk didalamnya wanita. Perubahan terhadap prilaku sex, kebiasaan konsumsi, pemeliharaan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan memiliki kontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit degeneratif maupun infeksi. Salah satu bentuk penyakit ganas yang mengenai wanita adalah kanker serviks (E. Sutarto, 1989 hal 1).

Berdasarkan data yang diperoleh di Poiklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo, angka kejadian kanker serviks menempati urutan tetinggi dibandingkan kasus keganasan lain pada wanita. Kasus Ca. Serviks merupakan salah satu dari 10 kasus terbanyak yang ditemukan di Poliklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo sepanjang bulan Januari-Juni 2000, dengan jumlah kasus sebanyak 73 (Grafik kasus di Poliklinik Kandungan Dr. Soetomo, 2000). Data ini didukung oleh data epidemiologi dari beberapa Rumah Sakit di Indonesia. Data dari RSCM Jakarta selama 3 tahun terdapat 2606 kasus kanker, dengan kanker serviks menempati urutan terbanyak ( 24,3 %), (E. Sutarto, 1989). Data dari Rumah-sakit di seluruh Jakarta pada tahun 1977 ditemukan 1.183 kasus dengan kanker cerviks menempati urutan pertama : 21 % ( E. Sutarto, 1989). Dari 13 pusat Patologi Anatomi di Indonesia tahun 1983 menempatkan kanker serviks sebagai kanker terbanyak. Data ini dikuatkan dengan adanya prediksi bahwa wanita usia 50 tahun keatas 3 % mengalami kanker eher rahim (FKKP SPK se Jawa Barat, 1997). Dengan prediksi ini dapat diasumsikan bahwa angka kejadian ca. Serviks akan semakin meningkat dimasa yang akan datang seiring dengan makin meningkatnya umur harapan hidup wanita Indonesia.

Berdasarkan data-data diatas, jelas terlihat bahwa angka kejadian kanker serviks masih merupakan momok bagi semua wanita dan merupakan masalah besar dalam upaya pengembangan kesehatan di Indonesia sehingga penatalaksanaanya memerlukan partisipasi dan kerjasama dari semua pihak termasuk profesi keperawatan.


B. Tujuan
I. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Untuk memberikan Asuhan Keperawatan kepada ibu dengan Suspek Ca. Serviks di Poliklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

2. Tujuan Instruksional Khusus
Dapat melakukan pengkajian pada ibu dengan suspek Ca. Serviks
Dapat menentukan masalah keperawatan pada ibu dengan suspeks Ca. Serviks.
Dapat menetapkan rencana keperawatan pada ibu dengan suspek Ca. Serviks.
Dapat menerapkan rencana perawatan pada ibu dengan Ca. Serviks.
Dapat melakukan evaluasi keperawatan pada ibu dengan Ca. Serviks.
II.
III. C. METODE PENULISAN
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode stadi kasus dengan pengumpulan data secara observasi langsung dan wawancara .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

IV. A. PENGERTIAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

V. B. ETIOLOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :

1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda

2. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

3. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.

4. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks

5. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

C. Klasifikasi pertumbuhan sel akan kankers serviks

Mikroskopis
1. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.

2. Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.

3. Stadium karsinoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.

4. Stadium karsinoma invasif
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.

5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.

Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.

Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.

Markroskopis
1. Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.

VI. D. GEJALA KLINIS
1. Perdarahan
Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat.
2. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebeluma ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.

E. Pemeriksaan diagnostik
1. Sitologi/Pap Smear
Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.

3. Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.

4. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali

5. Biopsi
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.

6. Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

VII. F. KLASIFIKASI KLINIS
• Stage 0:Ca.Pre invasif
• Stage I: Ca. Terbatas pada serviks
• Stage Ia ; Disertai invasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis
• Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I
• Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal
• Stage III : Sudah sampai dinding panggul dan sepertiga bagian bawah vagina
• Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.

G. Terapi

1. Irradiasi
• Dapat dipakai untuk semua stadium
• Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
• Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.

2. Dosis
Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks

3. Komplikasi irradiasi
• Kerentanan kandungan kencing
• Diarrhea
• Perdarahan rectal
• Fistula vesico atau rectovaginalis

4. Operasi
• Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II
• Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal

5. Kombinasi
• Irradiasi dan pembedahan
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.

6. Cytostatika : Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.



VIII. H. HUBUNGAN KANKER SERVIKS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN

Jika diperhatikan secara keseluruhan maka proses terjadinya Ca. Serviks dan masalah keperawatan yang muncul dapat diperhatikan pada bagan berikut :

Faktor :

Prilaku Lingkungan
( Sex aktif, paritas, personal higiene) ( Polusi, onkonenik agent, virus,
radiasi)

Kanker Serviks

Pelayanan Kesehatan Genetika
( Deteksi dini penyakit, laboraorium, (Keluarga yang menderita Ca,
Penanganan kasus P. Kelamin keluarga dengan ambang stress rendah)
penyuluhan pencegahan Ca. Serviks)

Kelemahan jaringan/ dinding menjadi rapuh  perdarahan masif  anemia
- Peningkatan kadar leukosit / kerusakan nosiseptor / penekanan pada dinding serviks  Nyeri
Gangguan peran sebagai istri dan gangguan gambaran diri  Ggn konsep diri.
- Gejala tidak nyata  adanya berbagai macam tindakan untuk menegakkan diagnose terdiagnose Ca  kecemasan

I. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Data dasar
Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang

Data pasien :
Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir.
Keluhan utama : pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan menyerupai air.

Riwayat penyakit sekarang :
Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.

Riwayat penyakit sebelumnya :
Data yang perlu dikaji adalah :
Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker.
Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya:
Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital.

Data khusus:
1. Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang
2. Pemeriksaan penunjang
Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan (anemia) b/d perdarahn intraservikal
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan
c. Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal
d. Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks dan pengobatannya.
e. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan terhadap pemberian sitostatika.

3. Perencanaan
Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra cervikal
Tujuan :
Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik :

Kriteria hasil :
a. Perdarahan intra servikal sudah berkurang
b. Konjunctiva tidak pucat
c. Mukosa bibir basah dan kemerahan
d. Ektremitas hangat
e. Hb 11-15 gr %
d. Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 Derajat C, RR : 18 - 24 X/mnt.

Intervensi :
- Observasi tanda-tanda vital
- Observasi perdarahan ( jumlah, warna, lama )
- Cek Hb
- Cek golongan darah
- Beri O2 jika diperlukan
- Pemasangan vaginal tampon.
- Tranfusi darah

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan.
Tujuan :
- Setelah dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi

Kriteria hasil :
- Tidak terjadi penurunan berat badan
- Porsi makan yang disediakan habis.
- Keluhan mual dan muntah kurang

Intervensi :
- Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan
- Berikan makan TKTP
- Anjurkan makan sedikit tapi sering
- Jaga lingkungan pada saat makan
- Pasang NGT jika perlu
- Beri Nutrisi parenteral jika perlu.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal

Tujuan
- Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri yang timbul akibat kanker yang dialami

Kriteria hasil :
- Klien dapat menyebutkan cara-cara mengurangi nyeri yang dirasakan
- Intensitas nyeri berkurangnya
- Ekpresi muka dan tubuh rileks

Intervensi :
- Tanyakan lokasi nyeri yang dirasakan klien
- Tanyakan derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri.
- Ajarkan teknik relasasi dan distraksi
- Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien
- Kolaborasi dengan tim paliatif nyeri
- Kolaborasi pemberian analgetik dan narkotik

Cemas yang berhubungan dengan terdiagnose kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang kaker serviks, penanganan dan prognosenya.

Tujuan :
Setelah diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya.

Kriteria hasil :
- Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita
- Klien mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien.
- Klien tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi.
- Sumber-sumber koping teridentifikasi
- Ansietas berkurang
- Klien mengutarakan cara mengantisipasi ansietas.

Tindakan :
- Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya.
- Dorong diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara mengontrol dirinya.
- Identifikasi mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. ( Ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem pendukung yang positif).
- Tunjukkan adanya harapan melalui kelompok pendukung
- Tingkatkan aktivitas dan latihan fisik

Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sebagai efek dari pemberian kemotherapi.

Tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil

Kriteria hasil :
- Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya
- Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.
- Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.
- Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.

Intervensi :
- Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif.
- Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikanbperasaan dan pikian tentang kondisi, kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan.
- Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang penyakitnya.
- Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
- Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan.
- Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara profesional.

BAB III
LAPORAN KASUS

Pengkajian dilakukan hari Selasa, 22 Mei 2001 Pk. 09.00
A. Pengkajian
1. Identitas
Klien Penanggung
Nama : - S. Sd -M.A
Umur : - 35 tahun -36 th
Suku/bangsa : - Jawa - Jawa
Agama : - Islam - Islam
Pendidikan : - D-III - S1
Pekerjaan : - PNS - PNS
Alamat : - Sawur Kembang RT 01/02 Mojokerto
Status perkawinan : - Suami pertama /5 tahun
2. Riwayat Keperawatan
Keluhan utama : Ibu mengeluh perut bagian bawah kanan – kiri terasa sakit dan keputihan sejak 2 tahun yang lalu, tetapi tidak bau, serta membawa rujukan dari Yayasan Kaker Wisnu Wardana Surabaya.
3. Riwayat Obstetri
Klien mengatakan menarche umur 12 tahun, dengan jumlah sedang, bentuk encer dan sedikit menggumpal, warna merah kehitaman. Siklus haid teratur setiap 30 hari, dengan lama setiap haid 6-7 hari. Hubungan seksual pertama kali dilakukan umur 30 tahun dan tidak pernah berganti pasangan seks. Klien menikah pada umur 30 tahun dan hingga saat ini belum pernah hamil. Haid terakhir tanggal 16 Mei 2001.
4. Riwayat Keluarga Berencana
Klien belum pernah menggunakan alat kontrasepsi oleh karena sangat menhendaki keturunan.
5. Riwayat Kesehatan
Klien sudah sering melakukan konsultasi infertilitas, akan tetapi semua dokter mengatakan bahwa kedua pasangan sampai saat ini masih subur, dan tidak mengalami gangguan anatomis sistem reproduksi. Klien tidak pernah mengeluh ada hambatan dalam melakukan hubungan suami istri. Klien tidak pernah merasa nyeri ataupun mengeluarkan darah setelah koitus. Klien rajin memeriksakan kesehatan reproduksinya ke Yayasan Kanker Wisnu Wardana Surabaya. Riwayat menderita penyakit kelamin tidak ada.
Suami klien mengaku tidak pernah melakukan hubungan kelamin dengan pasangan lain. Suami klien tidak pernah menderita penyakit kelamin.
Riwayat menderita penyakit lain :
- DM disangkal
- Hipertensi disangkal
- Hepatitis disangkal
- Jantung disangkal

6. Kebutuhan Dasar Khusus
a. Pola Nutrisi
Klien biasa makan 3 kali sehari dengan nasi, sayur dan lauk lengkap. Nafsu makan klien baik. Tetapi setelah mendapat informasi tentang Pap smear dari Yayasan Wisnu Wardana, nafsu makan klien berkurang. Klien hanya makan 2 kali sehari dan merasa tidak enak.

b. Pola eliminasi
Bab 1 kali sehari lembek dan warna kuning. Bak 4 kali sehari dan muncul keputihan sehabis kencing dengan warna putih, tetapi tidak bau.

c. Personal Hygiene
Klien senantiasa menjaga kebersihan tubuhnya, terutama vaginanya dengan menggunakan pembersih vagina (Wim). Meskipun demikian keputihan pada vagina klien masih tetap keluar.

d. Istirahat dan tidur
Klien biasa tidur Pk. 22.00 dan bangun Pk. 05.30 pagi. Sejak tahu hasil pemeriksaan Pap smear tanggal 21 Mei 2001 klien malamnya sulit memejamkan mata karena sangat takut jika dia benar menderita Ca. Serviks. Klien baru tidur Pk. 01.00 dan bangun 05.00 WIB.

e. Pola aktivitas dan istirahat
Klien PNS yang bekerja di Bagian keuangan LLAJR Mojokerto. Klien takut jika kondisinya dapat mempengaruhi pekerjaannnya, sebab dikantor tidak ada orang lain yang bis mengambil pekerjannya.

f. Pola hubungan seksual
Sebelum tahu hasil Pap Smear klien biasa melakukan hubungan seksual 3 kai seminggu, akan tetapi setelah tahu informasi hasil Pap. Smear klien dan suami takut melakukan hubungan.

g. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Riwayat merokok : disangkal
Minum-minuman keras : disangkal
Ketergantungan obat : disangkal

10. Pengetahuan tentang kesehatan
Klien mengungkapkan ketakutannya jika dia benar-benar menderita kanker, klien menanyakan apa lagi pemeriksaan yang harus dilakukan. Saya takut jika pemeriksaan yang akan dilakukan akan menyebabkan kesakitan dan perdarahan.

7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Kesadaran kompos mentis, GCS : 15, klien tampak lesu dan ekspresi wajah klien datar.
b. Penginderaan
Mata normal, konjunctiva agak pucat.
Telinga : bentuk dan fungsi normal
Lidah : bentuk dan fungsi normal
Hidung : bentuk dan fungsi normal
c. Pernafasan
RR : 18 X/mnt, gerakan dada simetris, retraksi (-), Wh -/-, Rh -/-, Rales -/-, Sesak (-).
d. Kardiovaskuler
T : 110/70 mm Hg, N : 88 X/mnt, S : 36,8 oC, Kapillary Refill 2 dt, Cyanosis (-), S1 S2 normal.
e. Pencernaan
Periastaltik (N), Bab (normal), Kelainan pada bentuk dan fungsi rektum (-).
f. Urogenital
Vulva : Fulsus (-), Fluor albus (+)
Vagina : Normal
Portio : Massa + ½ X ½ cm berdungkul
Corpus Uteri : Antefleksi, massa (-),
Adneksa Parametrium kanan dan kiri : Supel, Nyeri (-), Massa (-),
Cavum Douglas : Tidak menonjol, infiltrasi (-)
Insipikul : Porsio terlihat massa + ½ X ½ , infiltrat (-), fluksus (-)

g. Integumen
Kulit warna hitam. Turgor baik, strie (-),
h. Muskuloskeletal
Otot dan tulang intak.
i. Endokrin
Kelenjar tyroid : normal, payudara normal,

8. Data Penunjang
Pap smear : Tampak sel mencurigakan keganasan.

9. Therapi :
- Cek Hb, - Persiapan Biopsi.

B. Analisa Data
DATA ETIOLOGI MASALAH
S : Klien menagatakan sulit tidur (tidur pk. 01.00) dan makan tidak enak ( makan hanya 2 kali sehari), kien takut melakukan hubungan seksual setelah tahu hasil pemeriksaan Pap. Smear. Klien mengungkapkan ketakutannya jika dia benar-benar menderita kanker, klien menanyakan apa lagi pemeriksaan yang harus dilakukan. Saya takut jika pemeriksaan yang akan dilakukan akan menyebabkan kesakitan dan perdarahan.

O : RR : 18 X/mnt, N : 88 X/mnt, T : 110/70 mm Hg. S : 36.8 o C.
Ekpresi wajah klien datar. Terdapat massa berdungkul pada portio + ½ X ½ cm, fuor albus (+), warna putih bau (-). Terdapat sel yang mencurigakan keganasan pada porsio. Persiapan Biopsi dan Cek hab.
Kurangnya pengetahuan tentang Kanker Serviks dan Prosedur Pemeriksaan untuk menegakkan diagnose Ca. Serviks.

Stress

Rangsangan terhadap HPA Aksis

Ketakutan
Medula adrenal


Peningkatan kerja saraf otonom


Peningkatan katakolamin, noradrenalin


Muka pucat nadi meningkat

Kecemasan


C. Diagnose Keperawatan
Cemas sehubungan dengan terdiagnose suspek kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks, pemeriksaan yang dilakukan serta prognosenya

D. Rencana Keperawatan
Hari
Tgl
Jam

Diagnose
Tujuan
Tindakan
Rasinalisasi
Selasa
22 Mei 2001 Cemas sehubungan dengan terdiagnose suspek kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks, pemeriksaan yang dilakukan serta prognosenya Setelah diberikan tindakan perawatan selama 30 menit perasaan cemas klien berkurang.

Kriteria :
- Pasien berbagi beban masalah yang dihadapi sehubungan didiagnose suspek Ca. Serviks.

- Koping dan sumber pendukung terudentifikasi

- Klien komu-nikatif, ekpresi wajah jelas.

- Postur tubuh rileks
- Klien tahu tentang kanker, tindakan serta prognosenya.
- Bersedia dilakukan pemeriksaan penunjang berupa Hb dan biopsi.
- Mengutarakan dan mengerti cara mengantisipasi stress.

- Berikan kesempatan kepada klien dan keluarga mengungkapkan perasaannya dan dengarkan secara empati.

- Dorong diskusi terbuka tentang kanker, dan pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.

- Jelaskan tindakan, tujuan serta akibat dari pemeiksaan penunjang harus dijalani klien.



- Identifikasi terhadap faktor yang beresiko terhadap ketidakberhasilan penyesuaian diri klien












- Tunjukkan adanya harapan.






- Anjurkan untuk tetap beraktivitas - Untuk menim-bulkan rasa percaya.






- Untuk menyiapkan mental klien sehubungan dgn pemeriksaan yang akan dilakukan.


- Klien akan bersedia mengi-kuti prosedur pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan pada klien.

- Kekuatan ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah yang tidak efektif, kurang motivasi dan kurangnya sistem pendukung akan meningkatkan kecemasan, meningkatkan kadar kortisol, menurunkan sistem imun klien dan selanjutnya berakibat pada kondisi klien.


- Harapan untuk mengurangi tingkat stress merangsang peningkatan sistem imun sehingga memperbaiki kualitas hidup klien.

- Aktivitas akan mengurangi inpuls psikologis yang negatif yang bepengaruh pada daya tahan tubuh klien

E. Tindakan Keperawatan
Dx Hari/Tgl/jam Tindakan Evaluasi
Cemas sehubungan dengan terdiagnose suspek kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks, pemeriksaan yang dilakukan serta prognosenya





















































































Nyeri sebagai efek tindakan biopsi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dan perih pada vagina.

Potensial terjadi perdarahan s.e adanya perlukaan pada serviks.



Potensial terjadi infeksi s.e perlukaan pada serviks. Selasa, 22 Mei 2001


09.30 WIB – 10.15

















































10.15




















11.00




11.15


11.30










11.30





11.30





11.30


- Berdiskusi secara terbuka tentang kanker, dan pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.


- Menjelaskan tindakan, tujuan serta akibat dari pemeiksaan penunjang harus dijalani klien.





- Memberikan kesem-patan kepada klien dan keluarga mengung-kapkan perasaannya dan dengarkan secara empati tentang tanggapan klien terhadap penyakit yang dialami serta pemeriksaan yang akan dilakukan.

Jelaskan tindakan yang akan dilakukan jika klien benar terdiagnose kanker, serta kemungkinan kesembuhannya.

- Identifikasi terhadap faktor yang beresiko terhadap ketidakberhasilan penyesuaian diri klien







- Tunjukkan adanya harapan.



- Anjurkan untuk tetap beraktivitas






















KIE prosedur pemeriksaan Hb.



Menyiapkan tindakan biopsi.

Observasi klien setelah tindakan biopsi.









Anjurkan klien sementara istirahat di TT.
Kolaborasi :
Mef Acid 3 X 500 mg


Anjurkan mengo-bservasi perdarahan pada vagina setelah dirumah. He tanda-tanda perdarahan.


Anjurkan klien membuka tampon 2 hari lagi di IRD
KIE tanda-tanda infeksi.
KIE tentang kebersihan vagina

He Cara membersihkan vagina yang dapat mencegah infeksi.

Kolaborasi :
Amoksisilin 3 X 500 mg




- Klien mengerti. Akan tetapi takut jika hasil pemeriksaan nantinya benar-benar menunjukkan kanker.

- Klien memahami dan bersedia untuk dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan Hb dan biopsi agar semuanya menjadi jelas dan klien tidak cemas dalam ketidakpastian.

- Klien menanyakan apakah jika hasil pemeriksaan benar kanker, natinya bisa disembuhkan.






Klien mengerti





- Klien belum punya anak dan sangat ingin punya anak. Klien takut tidak bisa membahagiakan suami. Suami tamapk atabah dan perhatian terhadap klien. Klien punya dukungan material yang cukup untuk perawatan penyakitnya.

- Klien dapat memahami dan berjanji mengha-dapi apapun yang akan terjadi.


- Klien bersedia.


S : Klien dan suami berusaha menghadapi apapun yang akan terjadi. Klien siap dilakukan pemeriksaan penunjang.

O : Klien expresinya tenang.
A : Kecemasan berkurang danbersedia dilakukan pemeriksaan tambahan.
P : Siapkan pemeriksaan HB dan Persiapan biopsi.





- Klien melakukan pemerisaan Hb di kamar 14 dengan hasil 10 gr %


Klien dan alat siap


- Tampon (+), perdarahan (sedikit), perdarahan abnormal (-), Nyeri (+). Klien bertanya bagiaman dengan tampon yang ada di vaginanya , Kapan harus dibuka dan bagaimana jika cebok dirumah.


Klien istirahat.


Resep sudah diterima.


Perdarahan (-)
Klien mengerti cara mengobservasi tanda perdarahan pada tampon.

Klien mengerti dan bersedia




- Klien mengerti
- Klien paham


Resep diterima

F. Evaluasi
A. DX Hari/Tgl/Jam Perkembangan
Nyeri sebagai efek tindakan biopsi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dan perih pada vagina.


Potensial terjadi perdarahan s.e adanya perlukaan pada serviks.





Potensial terjadi infeksi s.e perlukaan pada serviks Selasa, 22 Mei 2001
Pk. 11.30





Selasa, 22 Mei 2001
Pk. 1]1.30






Pk. 11.30 S : Klien tahu cara mengurangi nyeri. Kien mengerti cara minum obat anti nyeri.
O : Resep Mef Acid 3 X 500 mg
A : Nyeri masih dirasakan
P : Anjurkan klien kotrol pd tgl 24/5/2001 di IRD


S : Klien tahu tanda-tanda perdarahan dan cara mengpbservasi perdarahan. Klien akan membuka tamponnya di IRD
O : Tanda perdarahan tidak ada
A : Masalah teratasi sebagian
P : ingatkan tanda-tanda perdarahan dan buka tampon di IRD.

S : Klien tahu tanda-tanda infeksi dan cara perawatan kebersihan vagina di rumah. Klien tahu cara minum Amoxicilin
O : Tanda infeksi (-). Resep Amoxicilin 3 X 500 mg.
A : Masalah teratasi sebagian
P : He agar klien kontrol ke IRD tanggal 24/52001.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar
Secara umum kanker serviks diartikan sebagai suatu kondisi patologis, dimana terjadi pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol pada leher rahim yang dapat menyebabkan gangguan terhadap bentuk maupun fungsi dari jaringan leher rahim yang normal. Pada kasus keganasn secara obyektif masih belum bisa diketahui secara pasti akibat belum akuratnya data-data penunjang untuk dapat ditegakkanya suatu diagnose kanker serviks. Adanya tanda-tanda keganasan yang diketahui dari hasil Pap smear bukan merupakan tanda pasti dari kanker serviks sehingga penegakan diagnose harus ditunjang dengan hasil biopsi. Kondisi ini dipersulit oleh karena derajat kanker klien masih tahap dini sehingga secara makroskopis penegakkan diagnosenya masih belum akurat.
Jika dilihat dari etiologi terjadinya kanker leher rahim, pada kasus ini tidak ditemukan kecurigaan keterlibatan salah satu faktor secara dominan, seperti prilaku seksual klien amupun pasangan, faktor karsinogenik dari lingkungan maupun penyakit yang bisa menjadi predisposisi timbulnya kanker serviks. Penelusuran terhadap keturunan sebagai upaya penemuan faktor genetika, juga tidak mampu dijadikan pedoman faktor yang terlibat dalam terjadinya kanker pada klien.
Kebiasaan penggunaan pembersih vagina (Lab. Ilmu Penyakit Kandungan RSUD Dr. Soetomo, 1994), dapat menjadi predisposisi timbulnya vaginitis maupun infeksi jamur lainnya. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa bisa saja kontak dengan pembersih vagina ini menjadi faktor pencetus gangguan keseimbangan asam-basa dalam vagina yang dapat mempermudah timbulnya infeksi intravgina baik oleh bakteri maupun virus yang pada akhirnya dapat menyebabkan iritasi dan tanda-tanda keganasan.

B. Pengkajian
Dari pengkajian yang dilakukan tidak ditemukan faktor dominan yang memicu timbulnya Ca pada klien. Disamping itu tanda-tanda positif Ca sampai saat ini juga belum pasti, mengingat data penunjang yang mendukung belum lengkap yakni berupa pengambilan hasil biopsi.Penegakan diagnose Ca. Serviks berdasarkan atas hasil pemeriksaan Pap smear, hasil pemeriksaan dalam dan Biopsi merupakan standar yang ditetapkan oleh RSUD Dr. Soetomo, sehingga pemeriksaan lain berdarakan teori yang ada tidak perlu dilakukan. Data yang berhasil ditemukan pada pengkajian klien ini secara umum masih berupa data-data psikologis. Hal ini disebabkan oleh karena diagnose yang sesungguhnya belum bisa ditegakkan sampai hasil biopsi selesai dikerjakan. Kondisi ini mengakibatkan ketegangan dan kecemasan untuk menunggu kepastian. Selain itu banyaknya tindakan yang harus dijalani untuk menegakkan diagnose menyebabkan klien makin cemas dan takut. Hal itu menyebabkan dampak psikologis jauh lebih dominan tampak pada klien.
C. Diagnose
Berdasarkan teori yang ada diagnose keperawatan yang biasanya muncul sebanyak 5 buah. Namun pada kasus ini diagnose yang muncul hanya satu yakni cemas. Hal ini diakibatkan belum adanya tanda-tanda pasti dari Ca Serviks. Dari data yang dikumpulkan baru dicurigai adanya Ca Serviks. Keadaan ini mengakibatkan masih perlunya berbagai tindakan untuk mendapatkan data penunjang dalam menegakkan diagnose, yang mana ketidakpastian diagnose dan berbagai rencana tindakan yang harus dijalani klien berdampak pada psikologis klien sehingga klien menjadi cemas.

Ketika kecemasan telah diatasi dan muncul suatu kesiapan untuk mengikuti serangkaian tindakan untuk menegakkan diagnose seperti pemeriksaan Hb dan pengambilan biopsi pada serviks, akan menimbulkan persoalan baru sebagai akibat dari tindakan tersebut. Masalah tersebut memunculkan sejumlah diagnose keperawatan seperti Nyeri, Potensial perdarahan, potensial infeksi sebagai dampak dari tindakan biopsi yang perlu penanganan secara komprehensif, baik ketika habis tindakan di poliklinik maupun setelah pulang kerumah. Sejumlah tindakan yang dilakukan bertujuan untuk mencegah dampak dari tindakan biopsi yang dilakukan selama di poliklinik maupun di rumah. Sehingga disasmping mengatasi kecemasan, penatalaksanaan klien yang yang terdiagnose suspek Ca. Serviks juga mencakup upaya pencegahan akibat skunder dari tindakan yang telah dilakukan di poliklinik.

D. Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada tahap awal sebelum dilakukan biopsi berupa tindakan untuk mengatasi cemas akibat dicurigai ca. Serviks dan rangkaian tindakan pemeriksaan penunjang dibuat sesuai dengan teori yang telah ada pada konsep dasar. Sedangkan perencanaan yang dibuat untuk mengatasi masalah keperawatan pasca biopsi meliputi tindakan untuk mengurangi nyeri, mencegah perdarahan dan mencegah infeksi setelah tindakan biopsi dilakukan.



E. Pelaksanaan
Mengingat waktu yang tersedia dipoliklinik sangat terbatas, pelaksanaan berbagai macam tindakan dilakukan secara komprehensif dalam waktu terbatas secara simultan sehingga alokasi waktunya terlihat sangat global. Sedangkan tindakan untuk mengatasi nyeri, mencegah perdarahan serta infeksi pasca biopsi dilakukan setelah tindakan biopsi dilakukan serta mengikutsertakan klien beserta keluarga secara aktif agar jika pulang klien dan keluarga mampu melakukan asuhan secara mandiri.

F. Evaluasi
Secara umum masalah teratasi sebagian. Hal ini disebabkan karena kontak sangat terbatas dan kesempatan untuk melakukan komunikasi secara interpersonal sangat kurang sehingga kualitas asuhan yang diberikan juga menjadi terbatas. Namun demikian hal itu sudah cukup membantu mengatasi masalah kklien.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kanker serviks merupakan kanker terbanyak pada wanita. Kanker serviks enyebabnya tidak jelas namun diduga dipengruhi oleh : prilaku sek, personal higiene, lingkungan maupun pelayanan kesehatan.
Asuhan keperawatan pada klien yang menderita Suspek kanker serviks merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan yang komprehensif dan unik tergantung dari fase dan derajat kanker yang ditemukan serta kondisi bio-psiko-sosial dari klien.
Diagnose dan tindakan yang muncul tidak sama pada setiap klien tergantung dari situasi dan keadaan individu saat kasus tersebut ditemukan.
Asuhan keperawatan yang dilakukan di poliklinik kandungan sangat waktu dan kualitasnya terbatas, sehingga diperlukan suatu teknik pendekatan skala prioritas agar masalah pokok bisa diatasi tanpa melupakan masalah yang lain

B. Saran
-Pemberian asuhan keperawatan keperawatan harus memperhatikan sumberdaya dan kesiapan mental yang dimiliki oleh klien untuk mencegah timbulnya masalah yang yang tidak diinginkan.
Perlu adanya pola pendekatan dengan model asuhan leperawatan yang benar dalam perawatan klien di poliklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

DAFTAR PUSTAKA:


Brunner & Suddart,s (1996), Textbook of Medical Surgical Nursing –2, JB. Lippincot Company, Pholadelpia.

Klein. S (1997), A Book Midwives; The Hesperien Foundation, Berkeley, CA.

Lowdermilk. Perry. Bobak (1995), Maternity Nuring , Fifth Edition, Mosby Year Book, Philadelpia.

Prawirohardjo Sarwono ; EdiWiknjosastro H (1997), Ilmu Kandungan, Gramedia, Jakarta.

RSUD Dr. Soetomo (2001), Perawatan Kegawat daruratan Pada Ibu Hamil, FK. UNAIR, Surabaya

Subowo (1993), Imunologi Klinik, Angkasa, Bandung.

Tabrani Rab 9 1998), Agenda Gawat Darurat, Alumni, Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar