Rabu, 07 April 2010

ASKEP KANKER KANDUNG KEMIH

PENDAHULUAN
Tumor ganas kandung kemih sekitar 90% adalah karsinoma sel transisional dan 10% adalah ca skuamosa dan jarang sekali adenokarsinoma yang berasal dari jaringan urakus. Didaerah sistoma dapat menyebabkan kanker skuamosa. Kanker kandung kemih dapat kapiler, noduler, ulseratif atau infiltratif. Derajat keganasan ditentukan oleh tingkat deferensiasi dan penetrasi ke dalam dinding atau jaringan sekitar kandung kemih. Epitel transisional terdiri dari 4-7 lapisan sel epitel ketebalan lapisan tergantung dari tingkat distensi kandung kemih. Adapun yang berperan dalam maslah ini adalah sel basal, sel intermediate, sel superficial, inilah yang akan menutupi sel intermediate, bergantung pada apakah kandung kemih dalam keadaan distensi atau tidak.

FAKTOR RESIKO
Factor resiko untuk kanker kemih mencakup karsinogen dalam lingkungan kerja, seperti bahan pewarna, karet, bahan kulit, tinta atau cat. Factor resiko lainnya adalah infeksi bakteri kambuhan atau kronis pada saluran kemih dan kebiasan merokok. Ca kandung kemih dua kali lebih banyak menyerang perokok daripada yang bukan perokok. Disamping itu, terdapat kemungkinan hubungan antara kebiasaan minum kopi dan Ca kandung kemih. Skistasambrosisi kronik (infeksi parasit yang mengiritasi kandung kemih) juga merupakan factor resiko. Kanker yang tumbuh dari kelenjar prostate, kolon serta rectum pada laki-laki dan dari traktus ginkologis bawah pada wanita dapat bermetastase di kandung kemih.

MANIFESTASI KLINIS
Tumor ini biasanya muncul dari basic vesica urinaria dan meliputi urivisium eretra serta kolumna vesica urinaria. Hematuria berat dan tanpa nyeri adalah gejala kandug kemih yang paling sering ditemukan. ISK merupakan komplikasi yang lazim terjadi dan menyebabkan gejala berkemih yang sering, urgensi dan disuria. Namun demikian, setiap perubahan pada urinasi didaerah panggul atau punggung dapat terjadi pada metastasis kanker tersebut.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tidak ada tes screening dini yang akurat untuk menemukan penyakit ini, namun dapat dilakukan sitologi urine untuk melihat adanya sel kanker. Lavase kandung kmih dengan salin mungkin akurat. Aliran sitometri dari urine untuk memeriksa ploidi DNA. Pielogram IV untuk mengevaluasi traktus urinarius bagian atas dan pengisian kandung kemih. Biopsy pada daerah yang dicurigai.
PENATALAKSANAAN
Factor-faktor yang mempengaruhi rencana pengobatan mliputi jenis tumor, kedalam invasi tumor dalam kandung kemih, penyebaran penyakit, dan keadan umum klien. Factor-faktor tersebut penting dalam rencana perawatan klien. Reseksi transurethral (TUR) dan vulgrasi digunakan pada karsinoma insitu atau untuk lesi permukaan yang kecil. Karena kecepatan kambuhnya tinggi, kemoterapi intravesikal atau immunoterapi mungkin dianjurkan. Tiopeta, mitomicin, dan doksorubinsin adalah agen yang telah digunakan untuk pengobatan intravesikal. Terapi laser juga sebuah terapi yang mungkin untuk klien dengan lesi kecil. Reseksi kandung kemih segmental digunakan untuk tumor besar dan tunggal pada puncak kandung kemih atau dinding laterala atau untuk adenokarsinoma.
Ketika tumor itu incasif atau tidak dapat ditangani atau dikontrol dengan pendekatan yang konservatif, sistektomi adalah pengobatan pilihan. Sistektomi sederhana pada seorang pria meliputi pengangkatan kandung kemih, prostate dan vesicaurinaria; sedangkan pada seorang wanita meliputi pengangkatan kandung kemih dan uretra. Iversi urinarius setelah sistektomi dapat dicapai dengan menggunakan sebuah segmen ileum untuk membentuk sebuah salauran antara ureter dan abdomen eksternal. Pilihan lain bagi klien mungkin pembentukan reservoir ileum kontinen yang tidak membutuhkan apparatus penampungan eksternal.
Terapi radiasi untuk kanker kandung kemih sebagai modalitas penatalaksanaan tunggal, untuk penyakit invasive yang mempeunyai kemungkinan sembuh rta-rata 16-30%, ini lebih rendah daripada penatalaksanaan sistektomi, tetapi radiasi dapat digunakan pada klien yang tidak ditangani dengan pembedahan. Tidak ada regimen kemoterapi pasti yang telah dianjurkan untuk pengobatan kanker kemih tahap lanjut.

KOMPLIKASI
Komplikasi pembedhan meliputi peredaran dan infeksi, efek samping dari radiasi dapat menimbulkan striktur pada ureter, uretra, atau kolon. Komplikasi lain dikaitkan dengan daerah metastase penyakit.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Manifestasi klinis
Hematuria
Frekuensi berkemih
Disuria
Pemeriksaan diagnostic
Sitologi urine — sel kanker
Cuci kandung kemih — sel kanker
Aliran sitometri urine — ploidi DNA
Pielogram intravena (IVP) — evaluasi traktus urinarius atas & pengisian kandung kemih
Sitoskopi — melihat bagiandalam organ
Biopsy
Ultrasound transurethral — luasnya penyakit
CT-Scan — identifikasi nodus limfe regional dan metastase pulmonal
MRI — luas tumor dan terkenanya nodus limfe

DIAGNOSA KEPERAWATAN & INTERVENSI
1.Perubahan eliminasi urine dan kerusakan integritas kulit R/T pembuatan saluran luar abdominal untuk urine.
Kriteria Evaluasi : berpartisipasi dalam aktivitas yang b/d perawatan ileostomi
Intervensi perawatan Ostomi :
Pasang alat ostomi yan tepat ukuran
R/ mencegah iritasi pada kulit daerah sekitar ostomi
Bantu pasien melakukan perawatan ostomi secara mandiri
R/ mengembangkan teknik yang benar
Pantau proses penyembuhan luka insisi pada ostomi
R/ mengembangkan intervensi dini terhadap kemungkinan komplikasi
Anjurkan klien mengunjungi seseorang yang telah mengalami ostomi
R/ menurunkan nasietas dan ketakutan thd kemampuan beradaptasi
Ganti kantung ostomi sesuai kebutuhan
R/ memberi kesempatan dan penguatan terhadap prosedur mengganti
kantong & mengevaluasi stoma
2.Resiko infeksi R/T pembedahan unuk eliminasi urine
Kriteria Evaluasi : tidak ada infeksi pada saluran kemih
Intervensi :
Gunakan sabun antimicrobial untuk cuci tangan
R/ mencegah transmisi organisme
Pertahankan intake cairan adekuat
R/ meningkatkan aliran urine
Ajarkan klien cuci tangan
R/ memberikan informai ttg personal hygiene
Ajarkan klien ttg gejala dan tanda infeksi serta anjurkan untuk melaporkannya
R/ memberikan info untuk meningkatkan kepatuhan
Ajarkan klien dan keluarga untuk sering mengalirkan kantong untuk mencegah refluks
R/ dapat mencegah infeksi
3.Kurang pengetahuan R/T kemoterapi dan imunoterapi
Kriteria Evaluasi : klien mengungkapkan jadwal pengobatan & tujuannya
Intervensi :
Ajarkan klien dan klg prosedur dan tujuan terapi
R/ meningkatkan pemahaman dan menurunkan ansietas
Gunakan teknik steril dalam kateterisasi
R/ mencegah infeksi
Instruksikan klien untuk berkemih sebelum obat dimasukkan
R/ meningkatkan retensi obat
Instruksikan untuk selalu mengubah posisi
R/ meningkatkan lapisan bagian dalm k.kemih dengan obat-obatan
Instruksikan untuk menunggu berkemih selama beberapa jam
R/ memberikan kontak yang besar dari obat dgn permukan k.kemih
Instruksikan klien untuk toileting dengan hati-hati
R/ mencegah pemajanan pada kemoterapi &imunoterapi yg dikeluarkan
Melalui urine
4.Gangguan citra tubuh R/Y diversi urinarius
Kriteria Evaluasi : citra diri meningkat, terpelihara dan terjaga
Intervensi :
Anjurkan klien utnuk mengungkapkan perasaan mengenai ostomi dan Ca kandung kemih dan dampak yg diharapkan pada gaya hidup
R/ meningkatkan integrasi dari perubahan ke dalam gaya tubuh
Evaluasi perasaan klien mengenai diversi urinarius & efeknya, identitas seksual, hubungan dan citra diri
R/ sebagai data untuk merumuskan rencana askep
Bantu untuk memisahkan penampilan fisik dan perasaan kesehatan
R/ meningkatkan citra diri
Berikan kesempatan untuk berduka atas kehilangan fx k.kemih
R/ memberi waktu untuk mengatasi kehilangan
Izinkan klien untuk ventilasi emosi seperti marah dan rasa bersalah
R/ meningkatkan koping
Pantau apakah klien dapat melihat ostominya
R/ ketidakmampuan memandang ostominya mengindikasikan kesulitan koping.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar